Pentingnya Mengenal Rincian Keburukan
Pentingnya Mengenal Rincian Keburukan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 20 Rabiul Akhir 1448 H / 01 Oktober 2026 M.
Kajian Islam Tentang Pentingnya Mengenal Rincian Keburukan
وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
“Dan demikianlah Kami menerangkan ayat-ayat Al-Qur’an (secara terperinci) agar jelas jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am [6]: 55)
Selain menjelaskan jalan orang-orang yang durhaka, Allah ‘Azza wa Jalla juga merinci jalan kaum mukminin.
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’ [4]: 115)
Para sahabat radhiallahu ‘anhum ajma’in mengenal dua jalan, yaitu kebaikan dan keburukan, secara terperinci. Hal ini membuat mereka semakin kuat mencintai kebenaran dan membenci keburukan, sebab mereka memahami agama ini sesuai dengan penjelasan Allah ‘Azza wa Jalla di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Keadaan para sahabat sangat berbeda dengan generasi setelahnya. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa sebagian generasi setelah sahabat tumbuh dalam Islam tanpa mengenal rincian dari hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Padahal, Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerincinya. Terlebih lagi, setan senantiasa menghiasi keburukan dan membungkusnya dengan kata-kata indah yang menipu.
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
“Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.” (QS. Al-An’am [6]: 112)
أَفَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا
“Maka apakah pantas orang yang dijadikan merasa indah perbuatan buruknya, lalu ia menganggap baik perbuatannya itu?” (QS. Fatir [35]: 8)
Seseorang yang tidak mengetahui rincian penyimpangan dan kesesatan akan mudah terperangkap dalam tipuan setan yang mengemas keburukan tampak indah. Oleh karena itu, penting untuk memahami rincian keburukan berdasarkan penjelasan Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih, serta keterangan para sahabat radhiallahu ‘anhum ajma’in.
Ketidaktahuan terhadap rincian hal-hal yang bertentangan dengan Islam menimbulkan kerancuan antara jalan orang-orang beriman dan jalan orang-orang yang durhaka. Keburukan sering kali ditampilkan seolah-olah memiliki dalil atau dianggap sebagai wujud kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang saleh, seperti perbuatan syirik, tawasul yang keliru kepada wali, ataupun perayaan-perayaan tanpa dalil. Banyak orang membelanya karena tidak mengenal rincian jalan orang-orang yang durhaka dan tidak memahami pembahasan bid’ah serta kesesatan dalam agama.
Kerancuan timbul akibat minimnya ilmu dalam memahami kedua jalan tersebut atau salah satunya. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunnah pasti mengarah pada penyimpangan. Al-Qur’an dan sunnah memerinci jalan kebaikan maupun rincian jalan-jalan keburukan yang jumlahnya sangat banyak. Keduanya wajib dipelajari agar pemahaman tidak tercampur baur dan rancu.
Bahaya Tidak Mengenal Perkara Jahiliah
Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa ikatan Islam akan terlepas seutas demi seutas apabila tumbuh dalam Islam orang-orang yang tidak mengenal perkara-perkara jahiliah. Jahiliah mencakup keburukan, kesesatan, dan penyimpangan sebelum diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Petunjuk beliau bertentangan dengan seluruh keburukan masa jahiliah tersebut. Ketidaktahuan terhadap rincian perkara jahiliah menimbulkan kerancuan sehingga perkara jahiliah dianggap sebagai bagian dari agama, diamalkan, dan dibela mati-matian.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa pernyataan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menunjukkan kesempurnaan ilmunya dan tingginya pemahaman beliau terhadap agama. Segala sesuatu yang menyimpang dari petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah perkara jahiliah karena dinisbatkan kepada kebodohan yang merupakan lawan dari ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga para nabi dan rasul-Nya dari kejahilan karena sifat tersebut menyimpang dari petunjuk yang lurus.
فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil.” (QS. Al-An’am [6]: 35)
إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Sesungguhnya Aku menasihatimu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang jahil.” (QS. Hud [11]: 46)
أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang jahil.” (QS. Al-Baqarah [2]: 67)
Barang siapa tidak mengenal jalan orang-orang yang durhaka secara jelas, dikhawatirkan ia menyangka sebagian dari jalan tersebut sebagai bagian dari jalan orang-orang yang beriman. Ketidakmampuan membedakan kebenaran dan kebatilan menyebabkan kerancuan. Al-Qur’an diturunkan sebagai Al-Furqan, yaitu pembeda antara yang hak dan yang batil. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun disifati oleh malaikat sebagai pembeda di antara manusia. Ketidaktahuan ini tampak ketika amalan-amalan yang tidak bersumber dari petunjuk sunnah diamalkan dan dibela, sedangkan orang yang mengamalkan kebenaran justru dimusuhi.
Peringatan Hudzaifah tentang Tersebarnya Kebid’ahan
Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu pernah memberikan perumpamaan kepada para muridnya dengan menunjukkan celah sempit di antara dua batu besar. Beliau bertanya apakah mereka dapat melihat cahaya yang muncul dari celah tersebut, dan para murid menjawab bahwa mereka hanya melihat sedikit cahaya karena celah batu yang sempit. Melalui perumpamaan ini, beliau memperingatkan kondisi akhir zaman ketika penyimpangan merajalela.
“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kebid’ahan akan tersebar luas hingga kebenaran tidak terlihat kecuali seperti sedikitnya cahaya di antara dua batu ini. Demi Allah, kebid’ahan akan tersebar hingga jika ada sebagian darinya yang ditinggalkan, orang-orang justru akan berkata: ‘Sunnah telah ditinggalkan.’”
Ketika kebatilan ditinggalkan, sebagian orang justru menganggap sunnah yang ditinggalkan. Kerusakan pemahaman ini timbul akibat tidak mengenal perkara jahiliah dan tidak mengikuti metode Al-Qur’an dalam memahami agama. Sebagian pihak menganggap penjelasan rinci tentang syirik dan bid’ah dapat memecah belah masyarakat, padahal perpecahan hakiki justru terjadi ketika standar kebenaran terbalik. Penjelasan amar makruf nahi mungkar harus disampaikan dengan hikmah dan kelembutan, tetapi hakikat penyimpangan tetap wajib dirinci.
Penyusupan Aqidah Menyimpang ke Tengah Umat
Penyimpangan dalam masalah aqidah, ilmu, dan amal kerap terjadi ketika jalan orang-orang yang durhaka justru dianggap sebagai bagian dari ajaran kaum mukminin. Ketidaktahuan membuat sebagian orang membela pemikiran menyimpang tersebut, bahkan menyesatkan orang yang menyelisihi mereka. Salah satu contoh yang berkembang di masyarakat adalah anggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di mana-mana.
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha [20]: 5)
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya dan bersemayam di atas ‘Arsy. Para sahabat dan tabi’in bersepakat atas aqidah ini, sebagaimana ditegaskan oleh para imam Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya.
Imam Abu Hanifah menegaskan kufurnya orang yang mengingkari ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagian orang keliru menyatakan keyakinan menyimpang bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di mana-mana karena salah memahami ayat Al-Qur’an.
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid [57]: 4)
Makna kebersamaan dalam ayat tersebut adalah kebersamaan ilmu, pengawasan, dan penglihatan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sempurna. Berdasarkan kaidah bahasa Arab sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kebersamaan tidak mesti bermakna kebersamaan dzat. Ungkapan bangsa Arab bahwa rembulan menyertai perjalanan malam mereka bermakna sinarnya yang menyertai, bukan dzat rembulan yang turun berjalan di samping mereka.
Pertanyaan mengenai keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan aqidah dasar yang diujikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada seorang budak wanita untuk membuktikan keimanannya.
أَيْنَ اللَّهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, ‘Di manakah Allah?’ Budak wanita itu menjawab, ‘Di atas langit.’ Nabi bertanya lagi, ‘Siapakah aku?’ Ia menjawab, ‘Engkau adalah utusan Allah.’ Maka Nabi bersabda, ‘Merdekakanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang mukminah.’” (HR. Muslim)
Penyimpangan aqidah terjadi pada kelompok ahlul bid’ah seperti Jahmiyah yang menolak nama dan sifat Allah, Qadariyah yang menolak takdir, Khawarij yang mengafirkan pelaku dosa besar dan memberontak kepada pemerintah muslim, serta Syiah Rafidhah yang mengafirkan para sahabat Nabi. Kelompok-kelompok ini bahkan mengafirkan orang yang menyelisihi pemahaman bid’ah mereka.
Kerusakan besar ini timbul akibat ketidakpahaman terhadap jalan kebenaran dan jalan keburukan secara terperinci. Kaum muslimin perlu memahami kebenaran dan kebatilan secara rinci agar tidak terjadi kerancuan yang mengaburkan pemahaman, terlebih penyimpangan kerap dihiasi oleh setan sehingga dikesankan sebagai kebaikan.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak kajian lengkapnya.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56587-pentingnya-mengenal-rincian-keburukan/